Kumpulan Sejarah Mengenai Gestapu dan PKI

Kumpulan Sejarah Mengenai Gestapu dan PKI


Sejarah. Hingga akhir kekuasaan rezim Soeharto semua orang percaya bahwa semua itu adalah perbuatan yang diotaki oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan di pelajaran sejarah pun di catatkan kronologi menurut kepentingan penguasa saat itu.

Dalam buku Sejarah kelas 3 kurikulum 1994 ditulis bahwa PKI yang menjadi dalang peristiwa Gerakan 30 September 1965. Dimana peristiwa itu mengigatkan kita bahwa PKI selalu berusaha mencari kesempatan untuk melakukan Kudeta (perebutan kekuasaan).

Dalam buku tersebut juga disebutkan bahwa Aidit menugaskan Kamaruzaman alias Syam sebagai Ketua Biro Khusus PKI untuk merancang dan mempersiapkan perebutan kekuasaan.
 
 


Adapun pemaparan baru tentang fakta dan opini di balik G30S/PKI yaitu sebagai berikut ;

G 30 S didalangi oleh PKI
PKI sebagai dalang G30S merupakan versi yang paling populer, paling kuno, dan paling melekat di ingatan dan hati sanubari seluruh rakyat Indonesia. Bahkan singkatan resmi untuk gerakan ini adalah G30S/PKI yang diterjemahkan sebagai Gerakan 30 September oleh PKI. Selama masa Orde Baru setiap malam tanggal 30 September seluruh rakyat Indonesia diwajibkan menonton film kolosal tentang G30S/PKI dengan tujuan mengenang para pahlawan revolusi. Setelah rezim Soeharto tumbang belakangan banyak pendapat yang mengatakan bahwa film tersebut hanyalah propaganda dalam bentuk seluloid, film kolosal sebagai doktrinasi yang melanggengkan kekuasaan Soeharto.

Banyak juga ahli sejarah yang mempertanyakan doktrin bahwa PKI sebagai dalang gerakan berdarah ini. Kalau memang PKI memberontak kenapa 3,5 juta anggotanya-yang menjadikan PKI partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah Uni Soviet dan RRC-tidak melawan ketika terjadi pembersihan oleh ABRI? Mengapa partai komunis dengan jumlah anggota terbanyak diantara negara-negara non-komunis itu sangat mudah diruntuhkan dalam waktu beberapa hari saja? Bahkan putusan Mahkamah Militer Luar Biasa saja hanya menyebutkan individu-individu tertentu yang dijatuhi hukuman mati atau seumur hidup dengan alasan terbukti melakukan makar. Tidak menyebutkan PKI yang melakukan makar.

G 30 S disebabkan oleh konflik internal dalam tubuh TNI-AD

Menurut Ben Anderson dan Ruth M.C Vey G 30 S berawal dari persoalan intern TNI AD. Dalam teorinya yang kemudian diterbitkan dan dikenal sebagai “Cornell Paper” (1971) beberapa perwira TNI AD dari Kodam IV/Diponegoro kesal melihat para jenderal hidup berfoya-foya di Jakarta. Para perwira dari Jawa Tengah itu kemudian mengajak Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dan PKI dalam menjalankan operasinya. Versi ini agak lemah karena faktanya Brigjen Supardjo berasal dari Kodam Siliwangi demikian pula dengan Mayor Udara Sujono, walaupun memang Untung dan Latief dari Kodam IV/Diponegoro. Maka kemudian versi ini ditengahi oleh Harold Crouch dalam The Army and Politics (1978) yang menolakCornell Paper dengan mengatakan bahwa inisiatif awal gerakan ini timbul dari tubuh TNI AD sedangkan PKI bertindak sebagai “Pemain Kedua” dengam mengacu pada keterlibatan Sjam Kamaruzaman dan Pono-dari Biro Chusus PKI.

G 30 S adalah hasil skenario Letjen Soeharto
Didalam Artikel W.F.Wertheim yang berjudul Soeharto and the Untung Coup-The Missing Link (1970). Dikatakan bahwa pada malam 1 Oktober 1965 terjadi pertemuan antara Soeharto dengan Latief dan Letkol Untung-pimpinan tim penculik ketujuh jenderal. Tetapi banyak pula ahli sejarah dan politik yang berpendapat bahwa Soeharto bukan tipe orang jenius yang bisa merancang kudeta secara sistematis. Soeharto hanyalah orang yang sudah tahu sebelum kejadian nahas itu terjadi-melalui pertemuannya dengan Untung dan Latief-sehingga ia menjadi orang yang paling siap. Kesiapannya inilah yang menjadi senjata mematikan untuk menumpas PKI sekaligus merebut kekuasaan dari Soekarno.

G 30 S direncanakan oleh presiden Soekarno
Pada tahun 1974 seorang penulis belanda bernama Antonie Dake meneebitkan pengakuan ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko dalam The Devious Dalang. Dalam pengakuannya Bambang Widjanarko mengatakan bahwa pada tanggal 4 Agustus 1965 Presiden Soekarno memanggil Letkol.Untung dan memerintahkannya mengambil tindakan terhadap jenderal-jenderal yang tidak loyal. Sebenarnya pengakuan Bambang Widjanarko dapat dikonfrontasi dengan keterangan Bung Karno tetapi beliau sudah terlanjur wafat. Belakangan diketahui bahwa pengakuan Bambang Widjanarko hanyalah strategi untuk mencegah bangkitnya pendukun Soekarno dalam pemilihan umum Juli 1971. Hal ini diketahui setelah Bambang Widjanarko akhirnya mengakui sendiri bahwa saat itu ia dipaksa bersaksi demikian.

G 30 S adalah hasil rekayasa AS melalui CIA
Pada versi ini, Sukarno, pada pidato pertanggung jawabannya yang terkenal dengan “Nawaksara”, Juni 1966, pernah meyebutkan bahwa peristiwa G30S diakibatkan pertemuan 3 sebab, yaitu kebelingernya pemimpin PKI, subversi Nekolim, adanya oknum yang tidak bertanggung jawab. Sukarno memang tak menyebut CIA secara spesifik, tetapi secara umum, yakni subversi Nekolim menunjuk kepada adanya keterlibatan Blok Barat pimpinan Amerika Serikat dalam peristiwa G30S.

Versi ini juga mengatakan bahwa Amerika membujuk TNI AD untuk mengambil kekuasaan dari tangan Soekarno yang pro-komunis dengan membentuk Dewan Jenderal. Isu mengenai Dewan Jenderal-yang sebenarnya belum terbentuk karena TNI AD masih menunggu saat yang tepat-ini membuat PKI khawatir sehingga timbulah tindakan untuk mencegah perebutan kekuasaan oleh TNI AD dengan cara menculik 7 perwira tinggi AD. Tindakan penculikan yang kemudian dihembuskan sebagai tindakan pemberontakan inilah yang kemudian dijadikan dasar tentara-atau Soeharto-untuk membubarkan PKI dan memburu kader-kadernya sampai habis.
 
G 30 S adalah hasil rekayasa Dinas Intelijen Inggris

Andrew Gilchrist melaporkan kepada atasannya di Kemlu Inggris yang mengarah pada dukungan Inggris untuk menggulingkan Presiden Soekarno. Di sana ada pembicaraan Gilchrist dengan seorang kolega Amerika nya

tentang persiapan suatu operasi militer di Indonesia. Saya kutip salah satu paragraf yang berbunyi demikian: rencana ini cukup dilakukan bersama 'our local army friends.'

Sebelumnya sudah beredar buku yang berisi rencana Inggris dan AS untuk menyerang Indonesia. Apalagi, pemerintah Inggris tidak pernah melontarkan bantahan

Kesaksian Bung Hatta Menganai Gestapu dan Partai Komunis Indonesia 

Oleh: Poeng W. I. Lubis

Berikut saya sampaikan kesaksian dari Bung Hatta, bapak bangsa, dan salah-satu dari Dwi-Proklamator Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kita semua tahu bahwa bung Hatta dikenal sebagai tokoh pemikir, yang tidak pernah emosional dan sangat tajam analisanya.

Saya cuplikan dari buku “Bung Hatta Menjawab”, sebagai berikut :
Yang penting pertama-tama diketahui adalah tujuan PKI untuk merebut kekuasaan. Dan mereka tahu, bahwa kalau tidak meyakinkan Soekarno dulu, mereka tidak akan mendapat kekuatan. Ini prinsip pokok PKI waktu itu berdasar pengetahuan kita dari sejarah komunis di dunia, sejarah PKI di Indonesia, dan feeling berdasar kesadaran kita tentang keadaan masyarakat dan tingkat perkembangannya waktu itu. Kampanye PKI akan memilih Soekarno jadi Presiden kalau ia menang dalam Pemilihan Umum tahun 1955, membantu dengan “gigih” gerakan untuk merebut Irian Barat dengan kekerasan (Trikora) dan gerakan Ganyanhg Malaysia (Dwikora), semuanya adalah gerakan yang kita sudah tahu ke arah mana geraknya. Karena itu kita tak heran kalau Aidit sampai mengusulkan dibentuknya Angkatan ke-5, disamping Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Kepolisian, yang dipersenjatai dan dianjurkannya agar terdiri dari para petani dan kaum buruh. Semua itu tentu adalah persiapan ke Lobang Buaya, tempat penyembelihan dan pembunuhan yang ngeri dan di luar perikemanusiaan atas pemimpin-pemimpin Angkatan Darat. Jelas sekali hal ini menurut pola RRC, suatu hal yang sisa-sisa pikiran itu masih nampak dalam pola-pola Tri Panji dan Perjuta-nya sisa-sisa PKI latent yang nampak dari pemberontakan-pemberontakan Blitar (Jawa Timur) dan PKS/Paraku di Kalimantan Barat. Untunglah waktu itu belum sampai terbentuk Angkatan ke-5 itu. Tetapi usaha-usaha Aidit ke arah perebutan kekuasaan makin hebat sejak awal tahun 1965. Apa saja digunakan nya sebaik-baiknya. Saya ingat sekali, waktu PNI mengadakan kongres tahun 1965, tak lama sesudah itu PKI mengadakan Hari Ulang Tahun (HUT) pula. Semua pigura dan hiasan untuk Kongres PNI terus saja dipakai PKI untuk HUT nya. Pohon-pohon kayu, tembok-tembok, rumah-rumah orang, kantor-kantor, habis dicoreti gambar-gambar palu-arit. Hal ini mengingatkan kembali kepada cara-cara PKI di Delanggu waktu RI di Yogya dulu. Saya sudah merasa, kalau PKI menang, Soekarno malah akan disingkirkannya, bukannya diangkat. Bagi tiap orang yang tidak buta hati, pasti akan arif dia, ke mana suasana sedang berkembang dan apa yang suatu waktu pasti akan meledak dan akan mengagetkan serta membukakan mata setiap orang…. (Hal 60-61)

Waktu itu yang saya lihat, bahwa satu-satunya yang sanggup menghadapi PKI hanya tentara, Angkatan Darat yang dipimpin oleh Jendral Yani… (Hal 61)

Saya mendengar pertama-tama berita penculikan dan pembunuhan pimpinan Angkatan Darat dari Simatupang, pagi tanggal 1 Oktober 1965 dan bahwasanya Nasution lolos dengan lari melompati pagar pekarang belakang rumahnya dan bersembunyi di balik sebuah pohon di sana, serta berita bahwa anaknya yang bernama Ade Irma Suryani terbunuh. Waktu Wangsa Widjaja, Sekretaris saya datang, saya suruh mencek lagi mengenai berita itu. Kabar selanjutnya mengatakan bahwa Nasution setelah keluar dari persembunyiannya terus pergi ke Kostrad. Didapainya Soeharto sudah mengambil tindakan. Mula-mula Untung menguasai RRI, kemudian terdengar pidatonya dan pengumuman mengeani Dewan Revolusi dan sebagainya. Tetapi malamnya terdengarlah pidato Soeharto, selaku Panglima Kostrad, setelah ia merebut RRI kembali serta menguasai keadaan seperti semula. Reaksi batin saya pertama-tama mendenga itu, ialah bahwa in pasti PKI lagi…… (Hal 74)

Dari pihak Islam reaksi itu amat kuat, terutama mereka yang selama ini merasa tertekan…

Setelah orang-orang Islam tahu bahwa PKI mengadakan kup, tentara telah bertindak di bawah pimpinan Soeharto, maka rakyat pun ikut bergerak dan bertindak membantu tentara sampai hampir sukar untuk dikendalikan… (Hal 75)

Tindakan rakyat yang selama ini tertekan dan kemudian membalas tidak tanggung-tanggung, menunjukkan bahwa perkiraan Aidit itu tidak benar. Rakyat dulu yang dia kira di belakangnya, ternyata tidak sebanyak yang diperkirakannya. Hal itu disebabkan karena cara-cara Aidit selama ini ang didasarkan kepada pengerahan-pengerahan massa berbondong-bondong, disertai agitasi dan terror mental, sehingga banya orang hanya ikut-ikutan untuk mengamankan dirinya saja. Itulah akibat dari kenyataan, bahwa faktor pendidikan dan keinsyafan tidak didahulukannya, bahkan diabaikannya, dibandingkan dengan gerakan-gerakan agitasi dan pengerahan-pengerahan secarai beramai-ramai. Jadi prinsip-prinsip yang dianutnya itu belum berakar dan belum dimengerti orang banyak….(Hal 76)

Mestinya kader yang betul mengerti dan insaf dibina lebih dulu oleh PKI sehingga mencapai jumlah yang cukup besar untu mendukung massa yang dikerahkan itu barulah cukup kuat. Tetapi mereka telah merasa kuat dan bangga dengan massa ramai-ramai dan selogan-selogan serta tempik sorak di lapangan rapat-rapat terbuka yang sering dibikin seperti keranjingan. Tapi semuanya tanpa akar yang tertanam kuat dalam masyarakat. Jadi kalau dalam rapat-rapat umum dan pidato-pidato yang hebat, nampaknya rakyat setuju semua. Tetapi di luar itu rakyat sebenarnya jengkel. Ini kurang diketahui oleh PKI…(hal 76-77)

Membuka Tabir Gelap Sejarah Kita

Tentang noda hitam dalam sejarah kemanusiaan Indonesia. Tanggapan terhadap esai Taufiq Ismail: Presiden Mau Minta Maaf kepada PKI? (Republika, 12 Agustus 2015). Oleh Arif Saifudin Yudistira.
Bildergalerie 50 Jahre Massenmord an Mitgliedern und Sympathisanten der Kommunistischen Partei Indonesiens

Sebagai seorang anak muda yang resah, sekaligus guru yang ada di sekolah dasar, saya merasa sejarah begitu penting. Tidak hanya karena sejarah bisa membuka mata kita untuk tak buta melihat apa yang ada dimasa sekarang, tetapi juga melihat pelajaran dari masa lampau. Tetapi sejarah punya misi lain yang lebih penting yakni: kebenaran. Dalam agama apapun nilai-nilai kebenaran menjadi sesuatu yang wajib untuk diperjuangkan. Apalagi di negara yang notabene percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, tentu usaha dan perjuangan menegakkan kebenaran menjadi penting, apalagi kebenaran sejarah.

Bagi saya generasi 90-an, informasi dan kebenaran sejarah yang diterima tak lain bersumber dari sekolah dan juga guru-guru kita. Generasi saya adalah generasi yang mengunyah buku-buku terbitan orde baru yang dicap “milik negara tidak diperdagangkan”. Di buku itu jelas tertera, PKI adalah biadab, bengis, kejam , bahkan atheis. Buku-buku itu didukung oleh keterangan guru-guru di waktu itu bahwa PKI layak untuk dilenyapkan, Soeharto adalah pahlawan karena telah menumpas komunisme. Pemahaman saya tentang kebenaran seperti itu mendekam dan menghantui pikiran saya sejak dahulu sampai sekarang, bahkan sampai kuliah.
Indonesien, Arif Saifudin Yudistira

Arif Saifudin Yudistira

Saya beruntung di masa kuliah menemukan buku-buku yang membuka mata batin saya untuk tak melulu menerima kebenaran sejarah bahwa PKI adalah kejam, bengis dan layak dimusnahkan. Pemahaman saya mulai berubah tatkala membaca buku Kemunculan Komunisme di Indonesia karya Ruth McVey. Di buku itu dijelaskan bahwa gerakan PKI muncul tak serta merta dan tiba-tiba. Ia muncul akibat keresahan dan kegelisahan intelektual pribumi dimasa itu yang tak sepakat lagi dengan pecahnya SI putih dan SI merah. Pecahnya SI kemudian mendorong kaum islam radikal bergabung dengan PKI. PKI pun berkembang dengan pesat karena ideologinya yang bernafaskan kaum kromo. Kaum islam tak sepenuhnya menghindar, bahkan di Solo Haji Misbach ikut serta memberikan keterangan bahwa “islam yang tak sepakat komunis berarti islam yang tak sejati”.

Fakta dan data sejarah versi penguasa

Pemahaman saya pun berlanjut tatkala menemukan fakta menarik di buku Olle Tornquist yang menulis buku Mencari Kiri di Indonesia. Di buku itu, saya melihat ada semacam kepeloporan dalam melawan kolonialisme di masa itu. Begitupun ketika kita membaca buku yang lainnya yang di masa orde baru jelas dilarang untuk beredar. Maka kita tak perlu terhenyak tatkala menyaksikan dua film yang membuat dunia internasional tertarik untuk membuka tabir gelap sejarah kita yakni film Senyap dan film Jagal karya Joshua Oppenheimer.

Indonesien Suhartos Weg zur Macht (Bildergalerie)

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana Prajurit Tak Bertuan

Suharto banyak berurusan dengan pemberontakan Darul Islam selama meniti karir militernya. Pasca kemerdekaan ia juga aktif memberantas kelompok kiri di antara pasukannya. Tahun 1959, ia nyaris dipecat oleh Jendral Nasution dan diseret ke mahkamah militer oleh Kolonel Ahmad Yani karena meminta uang kepada perusahaan-perusahaan di Jawa Tengah. Namun karirnya diselamatkan oleh 
 
Jendral Gatot Subroto.
Tetapi apalah arti buku-buku itu, ketika dominasi pengetahuan melalui tangan negara justru lebih kuat daripada buku-buku yang waktu itu dilarang dan dihancurkan?. Buku-buku itu seperti angin lalu, kita seperti terlanjur menerima fakta dan data sejarah versi penguasa. Kita tak heran ketika Wijaya Herlambang menulis disertasi bagus yang mengisahkan tentang bagaimana Suharto mencipta sejarawan Nugroho Notosusanto dengan membuat buku pertama versi pemerintah yang membenarkan tindakan Suharto menumpas komunis. Meski kita tahu, waktu itu sudah ada dokumen dari Amerika hendak dibocorkan, tetapi ditutup-tutupi oleh Suharto. Meski ditutup-tutupi, dokumen itu justru terlanjur menjadi pemberitaan di luar negeri. Suharto pun tak kurang akal, ia pun segera menutupi dengan membentuk lembaga-lembaga kebudayaan dan kesenian untuk menutupi sejarah yang memilukan sepanjang masa ini.

Saya cukup terhenyak dan kaget ketika membaca tulisan Taufiq Ismail di harian Republika (12/8/15). Di tulisan bertajuk Presiden Mau Minta Maaf kepada PKI? , Taufiq seperti menunjukkan kemarahannya, nampak sekali di tulisan itu berusaha menegaskan kembali bahwa PKI dipandang sebagai biadab, bengis dan kejam. Bila Taufiq ismail menggunakan teori sebab akibat sebagaimana yang ditulis dalam buku-buku sejarah yang ada , Taufiq mengutip buku (Lubang-lubang pembantaian –petualangan PKI di Madiun, Tim Jawa Pos : Maksum, Agus sunyoto,A Zainuddin, Grafiti, 1990) yang menilai bahwa selama ini KGB dinilai menggunakan taktik melegitimasi dan melupakan pemberontakan PKI di Madiun. Mengenai peristiwa Madiun, kita bisa menengok versi sejarah yang lain di buku Teror Orde baru(2013) yang ditulis oleh Julie Soulthwood –Patrick Flanagan). Di buku itu penulis menerangkan bahwa gerakan penghancuran komunisme di asia tenggara memang merupakan gerakan yang di setting Amerika serikat dengan dukungan biaya yang cukup besar. Hal ini dilakukan tak lain karena komunisme dianggap berbahaya bagi keberlangsungan dan dominasi perekonomian dan eksploitasi kekayaan alam di Indonesia.

Teror Orde Baru

Kembali kepada teori sebab-akibat yang diajukan oleh Taufiq Ismail, mestinya kita melihat faktor ini atau faktor kolonialisme yang memunculkan gerakan komunisme di negeri ini. Motif munculnya komunisme di masa itu adalah urusan kolonialisme. Tetapi mengapa saat ini komunisme menjadi hantu yang layak dibasmi dan dimusnahkan?. Bahkan Profesor Wertheim mengatakan bahwa
Soft Launching von Indonesia People's Tribunal 1965

Soft Launching Indonesia People's Tribunal 1965 (IPT 1965) di Amsterdam, 17 Desember 2014

“yang disebut dengan pemberontakan Madiun di Jawa timur … sedikit banyak dipicu oleh unsure-unsur anti komunis. Utrecht pun menulis “ Tidak ada bukti bahwa jatuhnya pemberontakan (bulan September di Madiun) tanpa mengikuti rencana resmi PKI. Soerjono mengemukakan pendapatnya secara lebih halus Tidak lama setelah mengutip pernyataan Hatta pada 19 september 1948 Soerjono menyatakan : Sejak saat itu hysteria komunisfobia dikobarkan dengan dalih “pemberontakan PKI” atau “kebiadaban PKI”. Namun, sejak saat itu hingga kini ceritanya selalu sama. Tak seorang pun pernah diajukan ke meja persidangan untuk membuktikan bagaimana pemberontakan itu direncanakan. Jadi satu-satunya hal yang menjadi bukti di Madiun adalah ‘sneltrech' (keadilan ringkas)yang berlaku saat itu. Dengan kata lain pengadilan militer tidak butuh prosedur pembuktian yang lengkap. Atas dasar itu saya tidak terkejut saat mendengar bahwa kini di Jakarta banyak sekali orang yang menulis ulang ‘pemberontakan madiun' versi mereka masing-masing—dengan anggota-anggota komunis yang telah dipenjara selama 13 tahun tanpa bukti apapun terkait kesalahan mereka (sejak 1965) dikambinghitamkan” (Julie Southwood dan Patrick Flanagan, 2013 :30).

Di buku Teror Orde Baru (2013) dijelaskan secara berbeda dari pada versi sejarah yang dikutip oleh Taufiq Ismail di buku ini dijelaskan bahwa peristiwa madiun merupakan hasil pergumulan panjang di kalangan kesatuan-kesatuan aksi di pedalaman jawa yang bertekad mempertahankan tentara perjuangan kemerdekaan “popular” dan Komando Tinggi militer yang berusaha membawa satuan-satuan lapangan di bawah control pusat. Kembalinya pemimpin PKI Musso dari pengasingan Agustus 1948 berujung konsolidasi terpadu kelompok-kelompok FDR di bawah organisasi PKI dan meningkatnya hasutan serta propaganda FDR dan anti PKI anti Republik—hanya karena pemerintah sedang bersiap untuk menyerang PKI. Langkah pertama Hatta adalah merasionalisasi (baca: membersihkan) tentara dengan program demobilisasi terpadu. Ketidakpuasan tentara di wilayah pedalaman mencuat ke permukaan Letkol Sutarto yang lantang menentang program Hatta ditemukan tewas terbunuh. Pada 11 September 1948 menyusul gelombang ‘menghilangnya' anggota militer pro PKI di Solo, Komando Solo mengeluarkan ultimatum. Jika tentara-tentara tersebut tidak dikembalikan dalam tempo 14 jam pada 13 September,serangan akan ditujukan kepada pemerintah.
Unruhen in Indonesien 1965

Mahasiswa membakar kantor organisasi kepemudaan PKI di Jakarta, 3 Oktober 1965

Tatkala tenggat waktu tersebut telah terlewati, Kesatuan Angkatan laut Republik Indonesia (ALRI) menyerbu barak-barak pasukan elite pemerintah, Kodam Siliwangi. Keesokan harinya, pertempuran meletus di Madiun. Pertempuran mengakibatkan kerugian bagi kedua belah pihak. Pada 18 September tentara pro PKI menguasai Madiun dan kota-kota di sekitarnya. Bukti-bukti menunjukkan bahwa pemimpin PKI sebelumnya tidak mengetahui akan terjadinya peristiwa ini. Namun, saat tiba di Madiun pada 18 september 1948 mereka dihadapkan pada kondisi yang harus diterima (Kahin,1970 :291-292;Aidit 1955 ; 25-27). Menurut laporan di hari itu yang belum jelas kebenarannya dinyatakan dalam pidato Hatta bahwa telah didirikan Pemerintah Soviet, di Madiun dengan Musso sebagai ‘Presidennya”. Hatta meminta kewenangan absolute diberikan kepada Soekarno selama tiga bulan. Kondisi darurat militer pun diberlakukan. Pemberontakan dinyatakan berhasil diatasi pada 28 Oktober. Musso tewas tertembak tiga hari kemudian. Laporan lain menyatakan bahwa ribuan simpatisan komunis dan PKI lainnya terbunuh sementara 35.000 orang dipenjara (Kahin, 1970 : 300; Feith 1962 :52, Polomka 1971 :158).

Belum ada yang berani mengungkap

Sejarah Madiun dan sebab dari yang melandasi Madiun memang tak diungkap oleh Taufiq Ismail dan sejarawan yang menilai PKI sebagai pihak yang dianggap sebagai hantu yang patut dimusnahkan. Terlebih sebab dan proses mengapa Amerika sampai begitu gencarnya mendukung penumpasan gerakan komunis di Asia tenggara termasuk Indonesia. Motif kolonialisme ekonomi sampai saat ini tak pernah disinggung. Orang kemudian hanya tahu jargon pendek di mobil-mobil dan dikendaraan di jalan raya yang seolah meneror kita dengan gambar Suharto yang tersenyum dan mengatakan dengan entengnya : “Beras saiki regane piro le?, penak jamanku tho”?. Jargon-jargon dan terror semacam itu justru membuat kebenaran sejarah semakin ditutup-tutupi.
Indonesien Hetze Kommunisten 1965

Mahasiswa menyerang sebuah toko buku kiri, 4 Oktober 1965.

Faktanya tidak ada yang berani mengungkap bagaimana kejahatan Orde baru baik dari sisi kemanusiaan maupun dari sisi kejahatan ekonomi dan politik yang dilakukan oleh Suharto di masa itu. Saya adalah bagian dari generasi 90-an yang rindu kebenaran sejarah. Tentu, setelah 32 tahun lamanya rejim Suharto berkuasa, arus reformasi dimulai, makin muncul banyak buku yang semakin membuka tabir gelap sejarah kita.

Seruan Bung Taufiq Ismail tentu bagian dari cara kita menguak sejarah kelam kita, tentu kita tak boleh sebelah mata melihat sejarah. Kita mesti memandang secara menyeluruh, apalagi sejarah yang sudah ditutup-tutupi rapat oleh sebuah rejim yang selama puluhan tahun menggunakan instrumen negara untuk melegitimasi dan membuat sejarah sendiri dengan tujuan melegitimasi kekuasaan dan teror yang diciptakannya.

Karena itulah, upaya membuka tabir gelap sejarah yang diinisiasi oleh Yayasan Bhinneka Nusantara yang menerbitkan majalah edisi 50 tahun Genosida layak diapresiasi demi kebenaran sejarah.
67 tahun sejak peristiwa pemberontakan PKI Madiun tahun 1948 dan kemudian berulang kembali peristiwa pemberontakan pada G30SPKI Tahun 1965, namun ancaman komunisme di Indonesia seakan sengaja dibiaskan. Bahkan beberapa pihak sempat mewacanakan agar pemerintah Indonesia harus meminta maaf terhadap kader-kader Partai Komunis Indonesia (PKI).

Berikut ini tulisan dari sejarawan bernama Agus Sunyoto yang mengungkapkan fakta sejarah bagaimana kebiadaban PKI dalam upaya melakukan makar dan pemberontakan, ribuan nyawa umat Islam Indonesia telah menjadi kurban, simbol-simbol Islam telah dihancurkan.

Kebiadaban PKI Madiun 1948 Terhadap Ulama NU

“Tanggal 18 September 1948 pagi sebelum terbit fajar, sekitar 1500 orang pasukan FDR/PKI – 700 orang diantaranya dari Kesatuan Pesindo pimpinan Mayor Pandjang Djoko Prijono – bergerak ke pusat Kota Madiun. Kesatuan CPM, TNI, Polisi, aparat pemerintahan sipil terkejut ketika diserang mendadak. Terjadi perlawanan singkat di markas TNI, kantor CPM, kantor Polisi. Pasukan Pesindo bergerak cepat menguasai tempat-tempat strategis di Madiun. Saat fajar terbit, Madiun sudah jatuh ke tangan FDR/PKI. Sekitar 350 orang ditahan.“

KEBERHASILAN FDR/PKI menguasai Madiun disusul terjadinya aksi penjarahan, penangkapan sewenang-wenang terhadap musuh PKI, menembak musuh PKI, kegemparan dan kepanikan pun pecah di kalangan penduduk, diiringi tindakan-tindakan bersifat fasisme yang berlangsung dengan mengerikan. Semua pimpinan Masyumi dan PNI ditangkap atau dibunuh. Orang-orang berpakaian Warok Ponorogo dengan senjata revolver dan kelewang menembak atau menyembelih orang-orang yang dianggap musuh PKI. Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan. Bendera merah putih dirobek diganti bendera merah berlambang palu arit. Potret Soekarno diganti potret Moeso. Seorang wartawan Sin Po yang berada di Madiun, menuliskan detik-detik ketika PKI pamer kekejaman itu dalam reportase yang diberi judul: ‘Kekedjeman kaoem Communist; Golongan Masjoemi menderita paling heibat; Bangsa Tionghoa “ketjipratan” djoega.’

Pada detik, menit dan jam yang hampir sama, di Kota Magetan sekitar 1.000 orang pasukan FDR/PKI – 700 orang diantaranya dari Kesatuan Pesindo pimpinan Mayor Moersjid — bergerak cepat menyerbu Kabupaten, kantor Komando Distrik Militer (Kodim), Kantor Onder Distrik Militer (Koramil), Kantor Resort Polisi, rumah kepala pengadilan, dan kantor pemerintahan sipil di Magetan. Sama dengan penyerangan mendadak di Madiun, setelah menguasai Kota Magetan dan menawan Bupati, Patih, Sekretaris Kabupaten, Jaksa, Ketua Pengadilan, Kapolres, komandan Kodim, dan aparat Kabupaten Magetan, terjadi aksi penangkapan terhadap tokoh-tokoh Masyumi dan PNI di kampung-kampung, pesantren-pesantren, desa-desa, pabrik gula, diikuti penjarahan, penyiksaan, dan bahkan pembunuhan. Wartawan Gadis Rasid yang menyaksikan pembantaian massal di Gorang-gareng, Magetan, menulis reportase tentang kebiadaban FDR/PKI tersebut. Pembunuhan, perampokan dan penangkapan yang dilakukan FDR/PKI itu diberitakan surat kabar Merdeka 1 November 1948.

Meski tidak sama dengan aksi serangan di Madiun dan Magetan yang sukses mengambil alih pemerintahan, serangan mendadak yang sama pada pagi hari tanggal 18 September 1948 itu dilakukan oleh pasukan FDR/PKI di Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang, Cepu. Sama dengan di Madiun dan Magetan, aksi serangan FDR/PKI meninggalkan jejak pembantaian massal terhadap musuh-musuh mereka. Antropolog Amerika, Robert Jay, yang ke Jawa Tengah tahun 1953 mencatat bagaimana PKI melenyapkan tidak hanya pejabat pemerintah, tapi juga penduduk, terutama ulama-ulama ortodoks, santri dan mereka yang dikenal karena kesalehannya kepada Islam: mereka itu ditembak, dibakar sampai mati, atau dicincang-cincang. Mesjid dan madrasah dibakar, bahkan ulama dan santri-santrinya dikunci di dalam madrasah, lalu madrasahnya dibakar. Tentu mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ulama itu orang-orang tua yang sudah ubanan, orang-orang dan anak-anak laki-laki yang baik yang tidak melawan. Setelah itu, rumah-rumah pemeluk Islam dirampok dan dirusak.

Tindakan kejam FDR/PKI selama menjalankan aksi kudeta itu menyulut amarah Presiden Soekarno yang mengecam tindakan tersebut dalam pidato yang berisi seruan bagi “rakyat Indonesia untuk menentukan nasib sendiri dengan memilih: ikut Muso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia merdeka-atau ikut Soekarno-Hatta, yang Insya Allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia ke Indonesia yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apa pun juga. Presiden Soekarno menyeru agar rakyat membantu alat pemerintah untuk memberantas semua pemberontakan dan mengembalikan pemerintahan yang sah di daerah. Madiun harus lekas di tangan kita kembali.”

Seruan Presiden Soekarno disambut oleh Menteri Hamengkubuwono yang disusul sambutan Menteri Soekiman dan Jenderal Soedirman yang membacakan surat keputusan pengangkatan Mayor Jenderal Soengkono sebagai panglima militer Jawa Timur. Tanggal 23 September 1948 Menteri Agama KH Masjkoer mengucapkan pidato radio yang tegas menyebutkan bahwa tindakan merebut kekuasaan bertentangan dengan agama dan sama seperti perbuatan permusuhan orang-orang yang pro Belanda. Dengan janji-janji palsu rakyat dipengaruhi, dibujuk, dihasut, dipaksa dan dijadikan tameng oleh PKI Moeso.

Pidato Menteri Agama KH Masjkoer yang menyatakan bahwa rakyat dipengaruhi, dibujuk, dihasut, dipaksa dan dijadikan tameng oleh PKI Moeso tidak mengada-ada. Itu bukti sewaktu pidato Presiden Soekarno dicetak sebagai selebaran yang disebarkan kepada penduduk melalui pesawat terbang. Seketika – usai membaca selebaran berisi pidato Presiden Soekarno – penduduk yang dipersenjatai oleh PKI beramai-ramai meletakkan senjata. Mereka duduk di trotoar jalan dalam keadaan bingung. Mereka terkejut dan bingung sewaktu sadar bahwa gerakan yang mereka lakukan itu ternyata ditujukan untuk melawan Presiden Soekarno. Mereka pun mulai bertanya-tanya tentang siapa sejatinya Moeso yang mengaku pemimpin rakyat itu.

Sejarah mencatat, bahwa antara tanggal 18 – 21 September 1948 gerakan makar FDR/PKI yang dilakukan dengan sangat cepat itu tidak bisa dimaknai lain kecuali sebagai pemberontakan. Sebab dalam tempo hanya tiga hari, FDR/PKI telah membunuh pejabat-pejabat negara baik sipil maupun militer, tokoh masyarakat, tokoh politik, tokoh pendidikan, bahkan tokoh agama. Dengan kekejaman khas kaum komunis – seperti kelak dipraktekkan lagi di Kampuchea selama rezim Pol Pot berkuasa — bagian terbesar dari mayat-mayat yang dibunuh dengan sangat kejam oleh FDR/PKI itu dimasukkan ke dalam sumur-sumur “neraka” secara tumpuk-menumpuk dan tumpang-tindih. Sebagian lagi di antara tawanan FDR/PKI ditembak di “Ladang Pembantaian” di Pabrik Gula Gorang-gareng maupun di Alas Tuwa.

Setelah gerakan makar FDR/PKI berhasil ditumpas oleh TNI yang dibantu masyarakat, awal Januari tahun 1950 sumur-sumur “neraka” yang digunakan FDR/PKI mengubur korban-korban kekejaman mereka dibongkar oleh pemerintah. Berpuluh-puluh ribu masyarakat dari Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo, Trenggalek berdatangan menyaksikan pembongkaran sumur-sumur “neraka”. Mereka bukan sekedar melihat peristiwa langka itu, kebanyakan mereka mencari anggota keluarganya yang diculik PKI.

Diantara sumur-sumur “neraka” yang dibongkar itu, informasinya diketahui justru berdasar pengakuan orang-orang PKI sendiri. Dalam proses pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu terdapat tujuh lokasi ditambah dua lokasi pembantaian di Magetan, yaitu: 1. sumur “neraka” Desa Dijenan, Kec.Ngadirejo, Kab.Magetan; 2. Sumur “neraka” I Desa Soco, Kec.Bendo, Kab.Magetan; 3. Sumur “neraka” II Desa Soco, Kec.Bendo, Kab,Magetan; 4. Sumur “neraka” Desa Cigrok, Kec.Kenongomulyo, Kab.Magetan, 5. Sumur “neraka” Desa Pojok, Kec.Kawedanan, Kab.Magetan; 6. Sumur “neraka” Desa Batokan, Kec.Banjarejo, Kab.Magetan; 7. Sumur “neraka” Desa Bogem, Kec.Kawedanan, Kab.Magetan; dan dua lokasi killing fields yang digunakan FDR/PKI membantai musuh-musuhnya, yaitu ruang kantor dan halaman Pabrik Gula Gorang-gareng dan Alas Tuwa di dekat Desa Geni Langit di Magetan.

Fakta kekejaman FDR/PKI dalam gerakan pemberontakan tahun 1948 disaksikan puluhan ribu warga masyarakat yang menonton pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu, yang setelah diidentifikasi diperoleh sejumlah nama pejabat pemerintahan sipil maupun TNI, ulama, tokoh Masjoemi, tokoh PNI, Polisi, Camat, Kepala Desa, bahkan Guru. Berikut daftar sebagian nama-nama korban kekejaman FDR/PKI tahun 1948 yang diperoleh dari pembongkaran sumur “neraka” Soco I dan sumur “neraka” Soco II, yang terletak di Desa Soco, Kec. Bendo, Kab.Magetan:

SUMUR “NERAKA” SOCO I: 1. Soehoed, camat Magetan; 2. R. Moerti, Kepala Pengadilan Magetan; 3. Mas Ngabehi Soedibyo, Bupati Magetan; 4. R. Soebianto; 5. R. Soekardono, Patih Magetan; 6. Soebirin; 7. Imam Hadi; 8. R. Joedo Koesoemo; 9. Soemardji; 10. Soetjipto; 11. Iskak; 12. Soelaiman; 13. Hadi Soewirjo; 14. Soedjak; 15. Soetedjo; 16. Soekadi; 17. Imam Soedjono; 18. Pamoedji; 19. Soerat Atim; 20. Hardjo Roedino; 21. Mahardjono; 22. Soerjawan; 23. Oemar Danoes; 24. Mochammad Samsoeri; 25. Soemono; 26. Karyadi; 27. Soerdradjat; 28. Bambang Joewono; 29. Soepaijo; 30. Marsaid; 31. Soebargi; 32. Soejadijo. 33. Ridwan; 34. Marto Ngoetomo; 35. Hadji Afandi; 36. Hadji Soewignjo; 37. Hadji Doelah; 38. Amat Is; 39. Hadji Soewignyo; 40. Sakidi; 41. Nyonya Sakidi; 42. Sarman; 43. Soemokidjan; 44. Irawan; 45. Soemarno; 46. Marni; 47. Kaslan; 48. Soetokarijo; 49. Kasan Redjo; 50. Soeparno; 51. Soekar; 52. Samidi; 53. Soebandi; 54. Raden Noto Amidjojo; 55. Soekoen; 56. Pangat B; 57. Soeparno; 58. Soetojo; 59. Sarman; 60. Moekiman; 61. Soekiman; 62. Pangat/Hardjo; 63. Sarkoen B; 64. Sarkoen A; 65. Kasan Diwirjo; 66. Moeanan; 67. Haroen; 68. Ismail. ada sekitar 40 mayat tidak dikenali karena bukan warga Magetan.

SUMUR “NERAKA” SOCO II: 1. R. Ismaiadi, Kepala Resort Polisi Magetan; 2. R.Doerjat, Inspektur Polisi Magetan; 3. Kasianto, anggota Polri; 4. Soebianto, anggota Polri; 5. Kholis, anggota Polri; 6. Soekir, anggota Polri; 7. Bamudji, Pembantu Sekretaris BTT; 8. Oemar Damos, Kepala Jawatan Penerangan Magetan; 9. Rofingi Tjiptomartono, Wedana Magetan; 10. Bani, APP. Upas; 11. Soemingan, APP.Upas; 12. Baidowi; 13. Naib Bendo; 14. Reso Siswojo; 15. Kusnandar, Guru; 16. Soejoedono, Adm PG Rejosari; 17. Kjai Imam Mursjid Muttaqin, Mursyid Tarikat Syattariyah Pesantren Takeran; 18. Kjai Zoebair; 19. Kjai Malik; 20. Kjai Noeroen; 21. Kjai Moch. Noor.”
 
Tindak kebiadaban FDR/PKI selama melakukan aksi makarnya tahun 1948 yang disaksikan puluhan ribu penduduk laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak yang menonton pengangkatan jenazah para korban dari sumur-sumur “neraka” yang tersebar di Magetan dan Madiun, adalah rekaman peristiwa yang tidak akan terlupakan. Peristiwa pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu telah memunculkan asumsi abadi dalam ingatan bawah sadar masyarakat bahwa PKI memiliki hubungan erat dengan pembunuhan manusia yang dimasukkan ke dalam sumur “neraka”. Itu sebabnya, ketika tanggal 1 Oktober 1965 tersiar kabar para jenderal TNI AD diculik PKI dan kemudian ditemukan sudah menjadi mayat di dalam sumur “neraka” Lubang Buaya di dekat Halim, amarah masyarakat seketika meledak terhadap PKI, termasuk di lingkungan aktivis Gerakan Pemuda Ansor yang sejak 1964 membentuk Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di berbagai daerah yang dilatih kemiliteran karena memenuhi keinginan Presiden Soekarno membentuk kekuatan sukarelawan untuk mengganyang Malaysia, di mana anggota Banser yang emosinya tak terkendali – terutama setelah tewasnya 155 orang anggota Ansor Banyuwangi yang dibunuh PKI – dimanfaatkan oleh pihak militer untuk bersama-sama menumpas kekuatan PKI yang telah membunuh para jenderal mereka. 
 
Artikel ini ditulis oleh Agus Sunyoto.
Pertama kali dimuat di buletin Risalah edisi 36 tahun IV 1433 H/ 2012 hal 24-29, dipublikasikan ulang oleh blog remental.blogspot.co.id
 
Penulis adalah peneliti sejarah peristiwa Madiun 1948 yang diterbitkan dalam buku berjudul “LUBANG-LUBANG PEMBANTAIAN: GERAKAN MAKAR FDR/PKI 1948 DI MADIUN” (1990).
 
Penulis peneliti konflik Banser-PKI 1965 di Jawa Tengah yang diterbitkan dalam buku berjudul “BANSER BERJIHAD MENUMPAS PKI” (1995).
 
Penulis peneliti operasi Trisula 1966-1968 di Blitar yang dimuat bersambung di harian Jawa Pos September-Oktober 1995.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Kumpulan Sejarah Mengenai Gestapu dan PKI"